Pandemi pernah memaksa Suryani, pengusaha kuliner asal Payakumbuh, menutup sementara dapur produksi rendangnya. Namun, semangat pantang menyerah mengantarnya bangkit dan menjadikan Rendang Biyan sebagai ikon kuliner kota berjuluk “The City of Randang” tersebut. Kini, produknya tidak hanya diminati lokal, tetapi juga bersiap menembus pasar internasional.
Berawal dari usaha rumahan tahun 2018, Suryani sempat terpuruk ketika pandemi melanda. Omzet anjlok hingga 80 persen dan pesanan nyaris menghilang. Namun, ia tak menyerah. Dengan memanfaatkan platform digital dan berkolaborasi dengan komunitas UMKM setempat, Suryani perlahan membangun kembali kepercayaan konsumen. Keunikan Rendang Biyan terletak pada racikan rempah tradisional Minang yang dipadu teknik pengemasan modern sehingga tahan hingga 45 hari tanpa pengawet.
Komitmen terhadap kualitas membawa Rendang Biyan meraih sertifikasi halal dan BPOM pada 2025. Langkah ini menjadi kunci pembuka gerbang ekspor. Kini, produknya telah dikirim ke Malaysia, Singapura, dan Australia melalui kerja sama dengan diaspora Minang di luar negeri. Setiap bulan, produksi meningkat hingga 500 kg dengan melibatkan 15 ibu rumah tangga sebagai tenaga pengolah.
“Rendang bukan sekadar lauk, tapi duta budaya Minang yang layak mendunia,” ujar Suryani penuh semangat. Ia juga aktif membina pelaku UMKM lain melalui pelatihan pengolahan dan pemasaran digital. Perjalanan Suryani membuktikan bahwa krisis bisa menjadi batu loncatan bagi yang gigih berinovasi. Bagi pelaku usaha yang ingin berkolaborasi atau belajar strategi pengembangan bisnis, informasi lebih lanjut tersedia di Joker11. Dengan semangat gotong royong, UMKM Payakumbuh siap membawa nama harum Indonesia ke kancah global melalui cita rasa autentik rendang.